PENULIS : Fakhria Nesa, M.Hum Dosen FIB Universitas Andalas
ADANU – Dalam kehidupan sehari-hari, algoritma hadir tanpa banyak disadari. Ia bekerja di balik layar ketika seseorang membuka media sosial, menonton video, membaca berita, atau berbelanja daring. Algoritma menentukan apa yang muncul di beranda, video apa yang direkomendasikan, dan informasi mana yang dianggap relevan. Dalam situasi ini, muncul pertanyaan reflektif: sejauh mana pilihan-pilihan kita benar-benar merupakan keputusan personal, dan sejauh mana ia dibentuk oleh sistem algoritmik? Pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk menolak teknologi, melainkan untuk memahami bagaimana teknologi membingkai pengalaman manusia modern.
Secara sederhana, algoritma adalah seperangkat aturan yang dirancang untuk menyaring dan mengurutkan informasi. Dalam konteks media digital, algoritma bekerja berdasarkan data perilaku pengguna: apa yang disukai, ditonton, dibagikan, atau diabaikan. Eli Pariser dalam bukunya The Filter Bubble: What the Internet Is Hiding from You tahun 2011, memperkenalkan istilah filter bubble untuk menggambarkan kondisi ketika pengguna internet semakin sering terpapar pada informasi yang sejalan dengan preferensi mereka sendiri. Dalam situasi ini, realitas tidak hilang, tetapi disajikan secara selektif. Pengguna tidak melihat dunia secara utuh, melainkan versi dunia yang telah disesuaikan dengan pola perilaku digitalnya. Dengan demikian, Alogaritma berperan sebagai penyaring realitas, penentu apa yang tampak dan apa yang tersembunyi.
Pilihan, Kebebasan, dan Kenyamanan Digital
Salah satu daya tarik utama algoritma adalah kenyamanan. Rekomendasi yang tepat sasaran menghemat waktu dan tenaga. Namun, di balik kenyamanan tersebut, muncul dinamika baru dalam pengambilan keputusan. Seorang penulis dari Amerika Bernama Shoshana Zuboff dalam kajiannya tentang surveillance capitalism, menunjukkan bahwa data perilaku manusia tidak hanya dikumpulkan, tetapi juga digunakan untuk memprediksi dan memengaruhi tindakan di masa depan. Dalam konteks ini, pilihan tidak dihapuskan, tetapi diarahkan. Pilihan tetap ada, namun ruang pilihan tersebut dibentuk oleh apa yang lebih dulu ditampilkan, diulang, dan diprioritaskan. Kebebasan tidak hilang, tetapi bekerja dalam lanskap yang telah dikurasi.
Selera kerap dipahami sebagai sesuatu yang personal dan otonom. Namun, dalam dunia digital, selera berkembang melalui interaksi berulang dengan sistem rekomendasi. Musik yang sering diputar, video yang terus muncul, atau berita yang berulang kali dibaca secara perlahan membentuk kebiasaan. Pierre Bourdieu menjelaskan bahwa selera tidak pernah sepenuhnya netral; ia dibentuk oleh struktur sosial dan lingkungan. Dalam konteks kontemporer, algoritma dapat dipahami sebagai bagian dari lingkungan kultural baru yang memengaruhi pembentukan selera dan preferensi. Dengan demikian, algoritma tidak menciptakan selera dari nol, tetapi memperkuat pola yang sudah ada melalui pengulangan dan visibilitas.
Kesadaran Digital sebagai Sikap Reflektif
Hidup bersama algoritma bukan berarti hidup di bawah kendali total teknologi. Yang menjadi penting adalah membangun kesadaran digital, yaitu kesadaran bahwa apa yang kita lihat di layar bukanlah gambaran utuh dunia, melainkan hasil seleksi sistemik. Kesadaran ini memungkinkan individu untuk bersikap lebih reflektif: menyadari mengapa suatu konten muncul, mengapa informasi tertentu lebih dominan, dan bagaimana kebiasaan digital membentuk cara berpikir. Sikap reflektif ini tidak menuntut penolakan terhadap teknologi, tetapi pemahaman yang lebih kritis terhadap cara kerjanya. Dampak algoritma tidak berhenti pada ranah individual. Ia juga memengaruhi diskursus sosial: opini publik, tren budaya, dan bahkan cara masyarakat memahami isu tertentu. Informasi yang viral sering kali dianggap penting, bukan karena bobot substansinya, tetapi karena tingkat ketersebarannya.
Dalam situasi ini, algoritma berperan sebagai aktor kultural yang turut membentuk apa yang dianggap relevan, layak dibicarakan, atau perlu diperhatikan. Memahami peran ini menjadi penting agar masyarakat tidak sepenuhnya menyerahkan ruang makna pada logika keterlihatan semata. Pertanyaan tentang siapa yang mengatur pilihan kita di era algoritma tidak memiliki jawaban tunggal. Algoritma bukan penguasa mutlak, tetapi juga bukan alat netral sepenuhnya. Ia bekerja dalam relasi kompleks antara teknologi, data, dan perilaku manusia. Dengan menyadari cara kerja algoritma, individu dapat mengambil jarak reflektif dari arus informasi yang terus bergerak.

































































Discussion about this post