PENULIS : Fakhria Nesa, M.Hum Dosen FIB Universitas Andalas
ADANU – Pendidikan sering dipahami sebagai proses yang terstruktur, terukur, dan berorientasi pada capaian tertentu. Kurikulum, evaluasi, dan kelulusan menjadi penanda utama keberhasilan pendidikan.
Namun, dalam tradisi pemikiran pendidikan, pertanyaan mendasar mengenai ‘makna mendidik’ justru tidak pernah benar-benar selesai. Apakah pendidikan hanya soal pencapaian akademik, ataukah ia memiliki fungsi yang lebih mendalam dalam membentuk cara berpikir dan memaknai kehidupan?.
John Dewey, dalam karyanya Democracy and Education, menegaskan bahwa pendidikan bukanlah persiapan untuk hidup, melainkan kehidupan itu sendiri.
Pandangan ini menempatkan pendidikan sebagai proses yang berlangsung melalui pengalaman, bukan sekadar akumulasi hasil belajar. Dalam praktik pendidikan modern, hasil belajar sering dipresentasikan dalam bentuk angka, peringkat, dan sertifikat. Indikator tersebut memiliki fungsi administratif yang penting.
Namun, Dewey mengingatkan bahwa ketika pendidikan terlalu berfokus pada hasil akhir, terdapat risiko terabaikannya proses pengalaman belajar yang justru menjadi inti pendidikan itu sendiri. Dengan kata lain, pendidikan tidak hanya tentang apa yang dipelajari, tetapi bagaimana seseorang belajar dan membangun relasi dengan pengetahuan tersebut.
Mendidik sebagai Pembentukan Cara Berpikir
Paulo Freire, melalui konsep critical pedagogy, mengkritik pendidikan yang ia sebut sebagai banking education, yaitu model pendidikan yang menempatkan peserta didik sebagai “wadah kosong” yang harus diisi pengetahuan. Dalam model ini, pengetahuan diperlakukan sebagai sesuatu yang ditransfer secara satu arah, sementara ruang refleksi dan dialog menjadi terbatas.
Freire menawarkan pandangan bahwa mendidik sejatinya adalah proses membangun kesadaran berpikir. Pendidikan seharusnya membantu individu memahami realitas, mempertanyakannya, dan memaknainya secara kritis. Dalam konteks ini, kemampuan berpikir tidak tumbuh dari hafalan, melainkan dari dialog, pengalaman, dan refleksi. Pendekatan ini relevan untuk membaca tantangan pendidikan saat ini, di mana penguasaan materi sering kali lebih ditonjolkan dibandingkan kemampuan memahami makna dan konteks pengetahuan.
Relasi antara pendidik dan peserta didik merupakan elemen sentral dalam proses pendidikan. Freire menekankan pentingnya dialog sebagai dasar relasi edukatif. Dialog tidak dimaknai sebagai penghapusan peran pendidik, melainkan sebagai bentuk komunikasi yang menghargai peserta didik sebagai subjek pembelajaran. Relasi edukatif semacam ini membuka ruang bagi peserta didik untuk aktif berpikir, bukan sekadar menerima pengetahuan secara pasif. Pendidikan juga tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial dan budaya tempat ia berlangsung.
Ki Hadjar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan harus berpijak pada kebudayaan, karena melalui kebudayaanlah manusia membangun identitas dan makna hidup. Dalam konteks masyarakat yang terus berubah akibat perkembangan teknologi dan informasi, pendidikan dihadapkan pada tantangan untuk tetap relevan. Pengetahuan tidak lagi terbatas pada ruang kelas, tetapi tersebar luas melalui berbagai medium.
Oleh karena itu, pendidikan memiliki peran penting dalam membantu individu menafsirkan arus informasi tersebut secara kritis dan bertanggung jawab. Pendidikan yang kontekstual bukan berarti mengikuti perubahan secara pasif, melainkan membekali individu dengan kemampuan memahami dan menyikapi perubahan tersebut secara reflektif.
Pendidikan sebagai Proses Sepanjang Hayat
Pendapat Dewey, Freire, maupun Ki Hadjar Dewantara mengarah pada pemikiran bahwa pendidikan bukanlah proses yang selesai di institusi formal. Pendidikan merupakan proses sepanjang hayat yang terus berkembang seiring pengalaman hidup.
Dalam kerangka ini, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari capaian akademik jangka pendek, tetapi dari sejauh mana pendidikan mampu menumbuhkan rasa ingin tahu, kesadaran reflektif, dan kemampuan belajar. Pendidikan tidak harus memberikan semua jawaban, tetapi membekali individu dengan kemampuan untuk terus bertanya.
Pertanyaan mengenai apakah pendidikan telah menjalankan fungsi mendidik secara utuh tidak dimaksudkan untuk menghasilkan kesimpulan final. Sebaliknya, pertanyaan ini perlu terus dihadirkan sebagai bagian dari refleksi bersama. Dalam dunia yang terus berubah, pendidikan dituntut untuk tidak hanya mempertahankan struktur, tetapi juga membuka ruang dialog dan evaluasi.
Pendidikan yang reflektif adalah pendidikan yang bersedia meninjau kembali praktiknya, bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk memahami dan memperbaiki. Dengan demikian, pendidikan dapat dipahami bukan sebagai sistem yang selesai, melainkan sebagai proses kultural dan intelektual yang terus berkembang bersama masyarakat.

































































Discussion about this post