ADANU – Tiga hari. Hanya itu waktu yang dimiliki David Juntara Harahap untuk mendampingi istri dan menggendong putri pertamanya setelah kelahiran.
Setelah itu, ia harus kembali bertugas sebagai petugas pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Jauh dari rumah, berhadapan dengan api, asap, terik matahari, hingga lokasi yang sulit dijangkau sinyal.
Di rumah, Angel, sang istri, menjalani hari-hari bersama Dania, bayi perempuan mereka yang baru berusia dua bulan lebih. Saat rindu datang, ia memperlihatkan foto David kepada putrinya, sambil bercerita tentang sosok ayah yang sedang bekerja.
Dania mungkin belum mengerti. Ia belum tahu mengapa ayahnya jarang berada di sisinya. Namun, di balik foto yang diperlihatkan sang ibu, ada seorang ayah yang sedang berjuang di tengah api demi keluarga dan tanggung jawabnya.
Bagi David, tantangan terberat bukan hanya memadamkan api. Ada rasa khawatir ketika sinyal terputus dan ia tak bisa mendengar kabar istri serta buah hatinya.
Di tengah lelah dan kepulan asap, ia terus mengingat tanggung jawabnya sebagai pencari nafkah. Namun, ada kerinduan yang tak bisa digantikan oleh apa pun.
“Yang paling saya rindukan adalah tangisan anak perempuan saya yang masih kecil,” ungkap David.
Ia ingin segera pulang, menggendong Dania, mencium, dan memeluk putri kecilnya yang selama ini lebih sering ia rindukan dari kejauhan.
Sementara itu, Angel hanya berharap satu hal: suaminya kembali dengan selamat. Sebab, di balik setiap petugas yang berjuang memadamkan api, ada keluarga yang menunggu kepulangan.
Ada istri yang menyimpan cemas, ada bayi yang perlahan mengenal ayahnya lewat foto, dan ada pelukan yang masih tertunda.




























































Discussion about this post