ADANU – Komitmen menghadirkan pembangunan berbasis lingkungan kembali ditegaskan melalui pembentukan Kelompok Kerja (Pokja) Kampung Bahagia di tingkat RT
Program ini menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat pembangunan dari level paling bawah, yakni Rukun Tetangga (RT), dengan dukungan anggaran Rp100 juta per RT.
Ketua Komisi I DPRD Kota Jambi, Rio Ramadhan, menyampaikan bahwa persetujuan anggaran tersebut merupakan bentuk keseriusan legislatif dalam mendukung wajah baru Kampung Bahagia yang lebih tertata, produktif, dan mandiri.
“Kami telah menyetujui Rp100 juta per RT untuk mendukung wajah Kampung Bahagia. Silakan ajukan kebutuhan sesuai skala prioritas. DPRD tidak hanya menyetujui anggaran, tetapi juga akan ikut mengawal agar pelaksanaannya tepat sasaran dan transparan,” ujarnya.
Menurutnya, alokasi dana tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan prioritas di tingkat lingkungan, mulai dari penataan infrastruktur kecil, perbaikan fasilitas umum, hingga kegiatan sosial kemasyarakatan yang berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.
Rio menegaskan, Program Kampung Bahagia bukan program seremonial, melainkan program berkelanjutan yang akan terus dievaluasi dan dikembangkan.
“Program ini tidak berhenti di tahap awal. Ini akan terus berlanjut dengan penguatan sistem, pengawasan, dan partisipasi masyarakat agar benar-benar menjadi gerakan bersama,” tegasnya.
Di tingkat kelurahan, Lurah Simpang III Sipin, Muhammad Andi Usman, menyatakan kesiapan pihaknya dalam mendukung dan mengoordinasikan pelaksanaan program.
Ia menilai Kampung Bahagia menjadi wujud nyata perhatian pemerintah terhadap kebutuhan masyarakat di akar rumput.
“Kami akan mendukung penuh. Program ini adalah bentuk perhatian pemerintah sampai ke tingkat RT. Dengan adanya Pokja, koordinasi akan lebih terarah dan pelaksanaan lebih terstruktur,” katanya.
Ia menjelaskan, Pokja Kampung Bahagia nantinya akan berperan dalam menyusun rencana kerja, memetakan kebutuhan lingkungan, mengawal penggunaan anggaran, serta memastikan partisipasi aktif warga dalam setiap kegiatan.
Sementara itu, Tenaga Pendamping Kampung Bahagia, Rehan Aulia Putra, menekankan bahwa esensi utama program ini adalah meningkatkan swadaya dan kemandirian masyarakat.
“Program ini mendorong masyarakat untuk terlibat langsung. Bukan hanya menerima bantuan, tetapi ikut merencanakan, melaksanakan, dan mengawasi. Dengan begitu, rasa memiliki terhadap lingkungan akan semakin kuat,” jelasnya.
Ia menambahkan, pendekatan partisipatif menjadi kunci keberhasilan Kampung Bahagia. Kolaborasi antara DPRD, pemerintah kelurahan, pendamping, dan warga diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang bersih, aman, produktif, serta memiliki daya saing ekonomi.
Dengan terbentuknya Pokja Kampung Bahagia, sinergi antar pemangku kepentingan semakin diperkuat.
Program ini diharapkan menjadi model pembangunan berbasis komunitas yang mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekaligus memperkuat tata kelola pemerintahan di tingkat paling bawah.

































































Discussion about this post