ADANU – Ruas jalan provinsi yang menghubungkan Siau hingga Rantau Rasau di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) dilaporkan mengalami kerusakan sangat parah hingga menyebabkan kelumpuhan total pada jalur transportasi.
Kondisi ini telah menimbulkan antrean kendaraan yang menumpuk berhari-hari, mengancam perekonomian masyarakat, terutama para sopir, petani, dan pengusaha.
Kerusakan terparah dilaporkan terjadi di wilayah Lambur Dua, di mana para narasumber menyebutkan adanya beberapa titik kritis yang menyebabkan akses terputus.
Perjalanan Belasan Kilometer Capai Tiga Hari Riki, seorang pengguna jalan, menjelaskan betapa mengerikannya kondisi di lapangan.
“Saro nian jalan, Bang. Tumpuk-tumpuk kendaraan. Berhari-hari,” ujarnya.
Ia menyebut bahwa saat terjadi putus total, anggaran pemerintah untuk perbaikan cenderung membengkak karena harus melakukan pengecoran, padahal perbaikan seharusnya bisa dilakukan lebih awal sebelum kerusakan menjadi sangat parah, minimal dengan pengerjaan disekrap. Kondisi ini diperparah dengan penutupan jalur.
“Ini pulo, 7 hari ditutup jalan Lambur Dua Blok D ni. Gara-gara enam titik lubang ni,” tambah Riki.
Akibatnya, masyarakat harus mencari jalan alternatif seperti Lambur Satu, yang sayangnya tidak bisa dilewati oleh mobil-mobil besar.
Tria, narasumber lain, membenarkan parahnya waktu tempuh di jalur tersebut. Ia mengungkapkan bahwa sopir yang menempuh jarak hanya kurang lebih 17 kilometer dari Rantau Rasau ke Lambur, kini bisa menghabiskan waktu hingga
“3 hari 3 malam” untuk bisa tembus ke Lambur Dua.
“Yang paling parah tu titiknya tu di Lambur Dua,” kata Tria.
“Di Lambur Dua tu cuman jalan provinsi yang lewati Lambur Dua itu paling sekitaran enggak nyampe 6 kilo, itu ada tujuh titik. Di situlah yang kawan-kawan sopir tu nginap berhari-hari.” Tambahnya.
Ekonomi Lumpuh, Sawit Membusuk
Dampak dari kelumpuhan jalur ini langsung dirasakan masyarakat. Riki menyebutkan adanya kerugian yang harus ditanggung warga.
“Yang jelas yang kena efeknya masyarakat lagi. Harga sawit turun. Minimal Rp300 buat transportasi,” keluhnya.
Tria memberikan gambaran yang lebih luas mengenai dampak ekonomi. Menurutnya, buah sawit menumpuk di rumah, banyak yang busuk, dan para pengusaha mengalami
“tekor masal”. Bahkan, petani terpaksa menunda panen karena akses yang lumpuh total Lumpuh total ekonominya,” tegas Tria.
Mobil sembako dak bisa masuk, hasil perkebunan dak bisa keluar Harapan Perbaikan Segera.
Sementara itu, Ari, seorang pengusaha kecil sekaligus driver, mengungkapkan rasa putus asanya terhadap kondisi jalan provinsi yang tidak kunjung diperbaiki.
“Sudah hancurnya jalan kita ini, sudah putus nian, sudah berhari-hari baru bisa tembus. Jalannya berapa kilo lah titik ini. Kok sehancur ini nian, tidak ada perbaikan. Pengusaha-pengusaha kecil kayak saya, driver-driver kayak teman-teman semuanya aduh, sudah enggak sanggup di jalan provinsi ini. Kayak manalah Bosku, tolonglah,” pinta Ari
Dia memohon perhatian dan tindakan segera dari pihak berwenang.
Para sopir dan pengusaha berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah cepat dan tepat untuk memperbaiki ruas jalan ini agar aktivitas transportasi dan roda perekonomian di Tanjung Jabung Timur dapat kembali berjalan normal.

































































Discussion about this post