ADANU – Dugaan keracunan massal makanan bergizi (MBG) menimpa puluhan murid SD 118/IX Pematang Pulai, Kecamatan Sekernan, Kabupaten Muaro Jambi. Sejak Jumat (30/9/26) sore, RSUD Ahmad Ripin dipenuhi anak-anak sekolah dasar yang mengalami keluhan mual, muntah, dan lemas usai mengonsumsi MBG di sekolah.
Pantauan di rumah sakit, suasana sempat riuh. Orang tua dan keluarga korban datang silih berganti, sebagian terlihat panik mencari kepastian kondisi anak mereka. Sejumlah murid tampak masih menjalani perawatan intensif.
Salah seorang wali murid yang enggan disebutkan identitasnya mengungkapkan, anaknya yang duduk di kelas IV mulai mengeluh tak lama setelah menyantap MBG.
“Menunya soto. Katanya mulai mual sekitar jam setengah tiga,” ujarnya.
Insiden ini langsung menyedot perhatian pejabat daerah. Bupati Muaro Jambi Bambang Bayu Suseno (BBS), Wakil Bupati Jun Mahir, serta Sekda Budi Hartono terpantau mendatangi RSUD Ahmad Ripin untuk memantau langsung kondisi para korban dan meminta laporan awal dari pihak terkait.
Di sisi lain, Kepala SPPG Sengeti, Akbar Amrullah, menyatakan bahwa penyajian MBG telah dilakukan sesuai standar operasional prosedur (SOP).
Ia menyebut, sejak SPPG yang berada di bawah naungan Yayasan Aziz Ulkia Amanah beroperasi pada November 2025, baru kali ini terjadi dugaan keracunan.
“Secara prosedur sudah sesuai. Untuk penyebab pastinya masih kami selidiki,” kata Akbar.
Namun, berdasarkan informasi sementara, sedikitnya 59 murid dari sejumlah sekolah yang menerima pasokan MBG dari SPPG Sengeti dilarikan ke RSUD Ahmad Ripin dengan gejala serupa. Fakta ini memunculkan pertanyaan mengenai proses pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi makanan sebelum dikonsumsi para siswa.
Bupati BBS memastikan seluruh korban akan mendapatkan penanganan medis tanpa dipungut biaya.
“Yang utama sekarang adalah keselamatan dan kesehatan anak-anak,” ujarnya.
Hingga berita ini diterbitkan, keluarga murid masih terus berdatangan ke RSUD Sengeti. Dugaan keracunan MBG ini menjadi perhatian serius publik dan mendorong desakan agar dilakukan penelusuran menyeluruh serta evaluasi ketat terhadap sistem pengawasan MBG, guna mencegah kejadian serupa terulang.

































































Discussion about this post