ADANU – Seorang polisi intelijen terbiasa hidup dalam kesederhanaan tanpa ingin terdengar langkahnya. Namanya jarang disebut, wajahnya nyaris tak dikenal, tetapi hasil kerjanya sering menjadi penentu bagi pimpinan dalam hal mengambil keputusan untuk menciptakan dan menjaga harkamtibmas yang kondusif yang di harapkan oleh semua lapisan masyarakat.
Sebuah wilayah dapat tetap kondusif atau justru diwarnai gangguan keamanan, semua itu dapat terbentuk atas kinerja dari intelejen yang bertanggung jawab akan tugasnya.
Kombes Pol Ananto Herlambang bukan sosok yang mengejar sorotan. Bertahun tahun, tugasnya adalah mengamati dalam kegelapan, mendengar dalam kesunyian tanpa banyak bicara, dan membaca setiap potensi ancaman sebelum berubah menjadi gangguan keamanan.
Kini, perjalanan panjang itu membawanya ke kursi Kapolresta Jambi. Jabatan yang menuntutnya keluar dari balik layar. Bukan lagi sekadar menyusun analisis, tetapi juga harus mampu mengambil keputusan. Bukan hanya memberikan masukan kepada pimpinan, melainkan menjadi pemimpin yang bertanggung jawab atas keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayah hukumnya.
Bagi perwira yang besar di fungsi intelijen, tantangan itu bukan sesuatu yang asing. Justru akan dijadikan sebagai guru dalam kehidupannya. Itulah yang menjadi bekal utama bagi seorang pemimpin..
“Selama bertugas di intelijen, saya belajar bahwa setiap persoalan pasti memiliki akar masalah dan saya suka akan belanja masalah, untuk bisa mengatasi masalah yang ada menjadi tidak ada masalah, Tugas kami bukan hanya mengetahui apa yang terjadi, tetapi dimulai dari sebelum terjadi, pada saat terjadi dan pasca terjadi sehingga kami dapat memprediksi apa yang akan terjadi, Cara berpikir seperti itu yang akan saya bawa dalam memimpin Polresta Jambi,” ujar Kombes Ananto.
Menurutnya, pendekatan yang akan diterapkan bukan semata-mata berorientasi pada penindakan hukum melainkan pelayanan prima terhadap masyarakat dan mengedepankan Pencegahan agar tidak terjadi masalah, itu akan tetap menjadi prioritas, karena keamanan yang ideal adalah ketika masyarakat dapat menjalankan aktivitasnya sehari hari tanpa dihantui rasa khawatir.
“Kalau sebuah gangguan keamanan bisa dicegah sejak awal, masyarakat tidak perlu menjadi korban. Karena itu saya ingin seluruh personel lebih aktif hadir di tengah masyarakat, mendengar keluhan mereka, memetakan persoalan, belanja masalah apa saja, sehingga kita dapat menemukan solusi terbaik untuk semuanya.
Polisi tidak boleh menunggu masalah menjadi besar baru bertindak, itu akan membuat lebih berat tugas yang akan di laksanakan,” katanya.
Ia menegaskan, keberadaan Bhabinkamtibmas, fungsi intelijen, hingga seluruh personel di lapangan harus menjadi mata dan telinga organisasi.
Informasi sekecil apa pun harus mampu diterjemahkan menjadi langkah antisipasi yang tepat serta melayani dengan sepenuh hati yang ikhlas dan tulus.
“Setiap informasi memiliki nilai. Kadang persoalan besar bermula dari hal-hal kecil yang dianggap sepele. Kalau kita mampu mendeteksi sejak awal, banyak persoalan bisa diselesaikan melalui komunikasi, mediasi, dan pendekatan persuasif sebelum berujung pada penegakan hukum,” ungkapnya.
Meski demikian, alumni akpol angkatan 2000 ini memastikan pendekatan humanis tidak berarti memberi ruang bagi pelaku kejahatan.
“Saya selalu menyampaikan kepada anggota, kita ramah kepada masyarakat yang taat hukum, tetapi kita harus tegas terhadap siapa pun yang mengganggu keamanan. Tidak ada kompromi terhadap narkoba, premanisme, perjudian, maupun kejahatan yang meresahkan dan dapat merugikan masyarakat. Penegakan hukum tetap menjadi prioritas ketika memang diperlukan,” tegasnya.
Perwira yang sudah malang melintang di dunia intelijen itu juga menyadari bahwa tantangan kepolisian saat ini semakin kompleks. Perkembangan teknologi, penyebaran informasi yang begitu deras dan cepat, hingga dinamika sosial menuntut polisi untuk bekerja lebih adaptif.
“Seorang Kapolresta hari ini tidak cukup hanya memahami hukum. Tapi juga harus memahami karakter masyarakat, perkembangan teknologi, budaya lokal, dan mampu membangun kolaborasi dengan pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda, hingga insan pers. Keamanan bukan hasil kerja polisi sendiri, tetapi hasil kerja bersama,” paparnya.
Baginya, jabatan adalah amanah yang harus dijawab dengan kerja nyata, bukan sekadar program di atas kertas.
“Saya ingin masyarakat merasakan kehadiran polisi. Ketika membutuhkan bantuan, polisi hadir. Ketika ada persoalan, polisi menjadi bagian dari masyarakat dan bisa memberikan solusi yang solutif.
Dan ketika situasi aman, masyarakat bisa beraktivitas dengan nyaman. Itu yang menjadi ukuran keberhasilan kami,” katanya.
Di akhir perbincangan, ia mengaku pengalaman bertahun-tahun di dunia intelijen membentuk karakter kepemimpinannya hingga hari ini.
“Dunia intelijen mengajarkan saya untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara, lebih banyak membaca keadaan daripada berasumsi, dan mengambil keputusan berdasarkan fakta. Nilai-nilai itu akan terus saya pegang dalam memimpin. Karena pada akhirnya, kepercayaan masyarakat adalah kehormatan terbesar bagi institusi kepolisian.” Imbuhnya.
Dari balik bayangan menuju panggung utama, perjalanan itu kini memasuki babak baru. Naluri seorang intelijen tidak lagi bekerja dalam senyap.
Ia hadir di garis terdepan, memimpin, melayani, dan memastikan rasa aman benar-benar dirasakan masyarakat kota Jambi.































































Discussion about this post